Jumat, 09 Desember 2011

Kampus Seni Pencetak Kader HMI


HMI 

Himpunan Mahasiswa Islam adalah akronim dari HMI. HMI adalah salah satu organisasi mahasiswa yang bertujuan khusus menghimpun dan mendidik kader bangsa dari kalangan mahasiswa yang beragama Islam.

Syarat masuk menjadi anggota HMI adalah mengikuti pelatihan pengkaderan atau biasa dikenal Latihan Kader tingkat I. Nama kerennya adalah Basic Training Kelas I.

HMI sebagaimana diketahui bisa disebut organisasi mahasiswa Islam tertua di Indonesia. Karena berdirinya adalah 5 Pebruari 1947 di Jogyakarta.

Pendiri HMI Lafran Pane tidak pernah berencana melahirkan HMI bersama rekan -rekannya saat itu. Apalagi bertujuan untuk mencetak kader – kader HMI guna menjadi penguasa, pejabat di Pemerintahan Negara Indonesia ini.

Sedikit mengenal Lafran Pane ya..?. Sosok Lafran Pane, adalah pribadi sederhana. Tetapi otaknya brillian. Pintar dan cerdas.  Sebagai pendiri dan pemimpin HMI kali pertama HMI menjadi sangat disegani dan dihormati.

Baik intra kampus atau ekstra kampus sendiri semisal CGMI (Central Gerakan Mahasiswa Indonesia) – belakangan berafiliasi ke PKI.

HMI sampai hari ini cukup membanggakan pendirinya, Lafran Pane. Komitmen kuat membangun ummat (ummatan dan washaton). HMI terus memproduksi para kader pemimpin bangsa.

Sehingga keberadaannya sangat menyebar dan menusuk ke relung kehidupan dan suku – suku serta etnik di nusantara ini.

Keberadaan HMI di seluruh Indonesia sangat menguntungkan bagi bangsa. Sebab, kontribusi luar biasa dari pemikiran kader HMI selalu laku, dan menjadi acuan dalam program kerja – dan pembangunan di bangsa ini.

Padang Panjang salah satunya. Wilayah Indonesia yang satu ini memiliki Kantor Cabang HMI sebanyak 187 tempat (data kongres Palembang).

Padahal, kampus Kota Padang Panjang relative standart. Kota yang menjadi transit dari Bukit Tinggi, Batusangkar, Solok ini menjadikan Padang Panjang padat mahasiswa pendatang.

Secara strategis Kota Padang Panjang memiliki jumlah penduduk kurang lebih 47.000 jiwa dengan luas kota +/-23Km menjadikan Peta Padang Panjang mudah terpublik dan ini cenderung transparan.

HMI di Kota Padang Panjang sendiri tidak terlepas dari geliat menggurita dari aktifis Kampus UMSB (Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat) Padang Panjang sendiri.

Lalu Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Diyah Putri Padang Panjang, Sekolah Tinggi Agama Islam Imam Bonjol Padang Panjang, dan Akper Nabila. Yang paling unik adalah Institut Seni Indonesia yang notabene adalah calon-calon Seniman.

Ternyata Institut Seni Indonesia ini, menghasilkan kader HMI dalam jumlah cukup besar. Hal inilah yang lantas membuat beberapa kalangan, tokoh, alumni HMI di Jakarta, dan seluruh Nusantara menjadi semakin bersemangat untuk memacu dan menghidupkan HMI.

HMI bukanlah organisasi biasa. Tetapi menjadi kawah candradimuka kebangkitan aktifis Islam muda untuk berpikir holistic, cerdas, dan sistematis.

Keberadaan HMI di Kota Padang Panjang adalah sejak tahun 70 -an yang berbasic dahulu di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Diniyah Putri dan hingga kini menjadikan HMI sebagai basis Diniyah tetapi seluruh kampus di Padang Panjang kecuali AKBID Imam Bonjol karena Kampus ini baru dibuka.

Seluruh kampus di Padang Panjang diwarnai kader HMI. Di Institut Seni Indonesia Padang Panjang juga sudah ada Komisariat Penuh sejak tahun 2001.

Saking seriusnya, bahkan kader HMI Komisariat Institut Seni Indonesia yang biasanya hanya bicara soal seni, malah telah melahirkan kandidat Ketua Umum 2 periode dan melahirkan kader yang mampu berangkat ke jenjang di Pengurus Besar (PB) Himpunan Mahasiswa Islam.

Muhadi S.Sn adalah guru di Sekolah Menengah Kujuruan Kota Lhokseumawe Nanggroe Aceh Darussalam. Dia adalah Mantan Ketua Umum HMI Cabang Padang Panjang berasal dari Kampus STSI Padang Panjang (kini Institut Seni Indonesia / ISI).

Muhadi tercatat sebagai Ketua Umum yang mampu memegang Amanah selama 2 Priode tepatnya 2005 – 2006 dan 2006 – 2007.

Muhadi adalah alumni ISI yang unik. Selama memimpin HMI rambutnya dibiarkan gondrong, dan menjadi unik saat di acara  – acara formal.

Berkaca dari kader HMI yang bagus dan integritasnya tinggi itu membuat semangat kader HMI muda dan calon kader HMI untuk memacu ISI Padang Panjang sebagai pusat dakwah HMI di PTS lain semisal UMSB, STAI IB, STIT dan Akper Nabila.

Dari catatan yang ada, satu satunya Kampus dengan melahirkan kader – kader terbaik HMI adalah Kampus Institus Seni Indonesia Padang Panjang.

Penulis : Ichsan
-          Alumni SMK N 4 Lhokseumawe
-          Mahasiswa ISI Padang Panjang
-          Ketua Komisariat ISI Padangpanjang
-          Ketua HMI Padang Panjang 2009-2010
-          Ketua IPMA (Ikatan Pelajar & Mahasiswa Aceh) Padang Panjang Sumbar 2010-2012
-          Pengurus Besar Himpunan Mahasasiswa Islam 2010-2012 (sekarang)
-          Contact : 085260024977
-          Email : Kak_Ixan@yahoo.co.id 
      by: Andrean  
     Saptu (12:07)

Melihat Negeri Tak Berwajah


Oleh Ichsan

Begitulah sebutan untuk negeri ini, Indonesia. Mengapa demikian? Tentu realita memandang rapi bahwa Negara Indonesia tidak lagi berstatus jelas, tidak Macan Asia dan tidak pula Macan Ompong. Menjadi Negara yang disebut-sebut sebagai salah satu Negara terkorup yang tidak hanya di Asia namun di dunia bukanlah prestasi yang harus dibanggakan dan dilanjutkan dalam membangun Negara Indonesia. Namun jelas terlihat di depan mata bahwa para Dewan Perwakilan Rakyat, tidak mengeser atau tergeser untuk berbenah, setidaknya menyampaikan pada Dunia bahwa Indonesia tidak akan terus menjadi Negara Terkorup. Mustahil, Indonesia dapat Maju dan menjadi Negara kuat lebih layaknya julukan dahulu Macan Asia jika mentalitas serta moralitas Mayarakat tetap masih hancur.

Secara dalam Negeri, Indonesia merupakan sebuah Negara yang sangat kaya akan sumber daya alamnya. Sumber Migas dan Mineral lainnya yang melimpah ternyata  tidak mampu mensejahterakan 264 juta lebih masyarakat Indonesia sehingga tindak kriminal meningkat. Berjalan 66 tahun kemerdekaan Indonesia yang tinggal beberapa bulan lagi, Indonesia belum meningkatkan pembenahannya. Pembangunan Gedung DPR yang memunculkan pro dan kontra menjadikan para Dewan memunculkan kerja baru tanpa penjelasan akurat yang dapat diterima sebagian masyarakat Indonesia. Belum lagi kasus-kasus yang tidak pernah tuntas secara publik layaknya Century yang masih menggantung, Antasari Azhar (Ketua KPK) yang ditahan dengan tidak memberikan wewenang lebih dalam pembelaannya serta lainnya yang masih sangat banyak.

Menjadi sebuah pertanyaan besar, tentang arti Demokrasi Parlementer di mana fungsi DPR dipertanyakan. Hingga kini, belum maksimal kepuasan Masyarakat Indonesia atas kinerja para Dewannya yang hingga kini banyak tertidur saat sidang berlangsung bahkan ada juga yang lalai menonton film porno seperti yang dilakukan oleh salah satu anggota Dewan dari Partai PKS. Tidak hanya demikian, dahulu bahkan ada yang terekam Video bahwa anggota Dewan melakukan Sex (red: Yahya Zaini). Kinerja demikian seolah-olah anggota Dewan seperti tidak serius atas keinginannya membangun negeri ini yang telah dilanda krisis moral, krisis mentalitas, bahkan krisis kepercayaan oleh rakyat.

Sementara secara Internasional, Indonesia juga tidak berposisi jelas sehingga Indonesia tidak menjadi Negara yang diperhitungkan oleh Negara luar apalagi Amerika yang dianggap sebagai Negara Adidaya. Terbukti ketika terpilihnya Presiden Barack Obama pada tahun 2008 yang telah membuat sejumlah gebrakan yakni bersafari ke negara-negara Muslim dengan agenda dioalognya. Pada saat tersebut dapat dilihat secara publik bahwa Indonesia tidak menajdi Negara prioritas meskipun Indonesia menjadi salah satu Negara berpenduduk muslim terbanyak dengan jumlah masyarakatnya kisaran 5 besar berpenduduk terbanyak di dunia. Pada saat itu, Barack Obama membidik Turki, Mesir dan Saudi Arabia sebagai prioritas meskipun menjadi pertanyaan bahwa Turki mengapa menjadi priortas juga. Nyata disampaikan oleh Barack Obama bahwa Indonesia adalah pasar Amerika.

Secara teritorial, Indonesia juga tidak menjadi Negara yang diperhitungkan oleh negara-negara tetangga khususnya Malaysia. Beberapa terlihat fantasi bahwa armada laut Indonesia (AL) tidak mampu memerankan posisinya sehingga Indonesia cenderung terlecehkan. Dari sekian banyak kasus batas Negara, peristiwa terakhir di batas Indonesia bagian Sumatera tepatnya di selat Malaka arah Sumatera Utara di mana nelayan Malaysia tertangkap menangkap ikan di laut Indonesia. Meskipun Armada laut Malaysia telah mengerahkan Armada Perangnya (Helikopter Perang) dan telah membidik KRI, KRI tetap melakukan tugasnya dalm menahan kapal nelayan Malaysia tersebut.

Namun Indonesia, belum dapat berbangga sebagaimana karakter Negara Indonesia yang amat menanamkan rasa tenggang rasa kepada semua kalangan. Indonesia mesti tegas kepada negara-negara lain juga negara-negara tetangga bahwa Indonesia adalah Negara yang disiplin dan juga kuat dari armada perangnya. Indonesia sebagai negara berpulau terbanyak di Dunia, hendaknya meningkatkan kekuatan TNI AL sebagai basic pertahanan laut Indonesia. Pertahanan Indonesia dari segi laut sangatlah memprihatinkan dan ini makin menjadikan Negara Indonesia sebagai negara berpulau terbanyak seolah tak melihat bahwa pulau-pulau Indonesia lebih dari 13.000 pulau dan harus dipertahankan. Potensi pengklaiman Pulau Indonesia oleh negara-negara khususnya negara tetangga amat berpotensi jika pemerintah tidak mengambil tindakan meskipun tindakan tersebut akan sangat mustahil dengan moralitas bangsa yang amat terpuruk.

Jelas telah terlihat wajah Indonesia saat ini tidak lagi berbentuk dengan jelas. Status yang berbalik semestinya menjadikan para dewan pimpinan rakyat dan segera berbenah yang nantinya akan menjadi tindak daya dan upaya dalam menuju Indonesia yang bermartabat. Pertahanan Indonesia hendaknya menjadi perhatian serius bahkan menjadi salah satu dari prioritas khususnya di AL dengan kondisi negara yang memiliki pulau terbanyak di Indonesia. Ketegasan Indonesia kepada Luar Negeri mestilah menjadikan Negara Indonesia menjadi perhitungan Negara-negara luar. Pemerintah bersama dengan jajarannya sepantasnya mengambil keputusan dan kebijakan yang memihak pada rakyat mulai dari kasus pembangunan kantor DPR yang semestinya bukan tidak dibangun atau dibangun namun pemerintah haruslah memberikan pemahaman yang dapat diterima oleh masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Begitu juga dengan perencanaan lainnya layaknya PLTN (Perusahaan Listrik Tenaga Nuklir)  yang mulai disuarakan. Jelas sudah bahwa itu bukanlah alternatif apalagi solusi untuk kemaslahatan masyarakat Indonesia.

Tidak masuknya Indonesia dalam perhitungan negara-negara luar hendaknya menjadi cambuk untuk negara ini khususnya Presiden selaku kepala pemerintahan. Apalagi dengan sebutan Negara terkorup, lemah SDM dan Negara boneka Amerika. Hal yang buruk bukanlah hal yang harus dipertahankan dan dilanjutkan. Peningkatan dalam segala aspek menjadi urutan perbaikan Indonesia menuju Indonesia yang bermarthabat dalam Demokrasi.

Penulis alumni SMK Negeri  4 Lhokseumawe, mahasiswa ISI Padang Panjang, Ketua HMI Padang Panjang 2009-2010, Ketua IPMA (Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Aceh) Padang Panjang Sumatera Barat 2010-2012, dan pengurus Pengurus Besar Himpunan Mahasasiswa Islam 2010-2012 (sekarang).    

        by andrean 

29 Apr 2011 21:00 - 09desember 2011 15:12